Belajar Penanganan Hoax dari Finlandia

Seperti yang sudah diketahui masyarakat, permasalahan berita bohong atau hoax sudah menjadi masalah yang cukup gawat. Jangankan memberantas, membendung arusnya pun sulit. Hoax seolah sudah menjadi bagian yang pasti muncul dari berbagai macam berita yang hadir.

Dampak dari hoax pun tidak main-main. Pada 17 Agustus 2019, asrama mahasiswa Papua di Surabaya digeruduk massa akibat berita-berita yang menuduh para mahasiswa menjatuhkan Bendera Merah Putih secara paksa. Berita bohong tersebut menyebabkan asrama dikepung oleh polisi dan ormas. Padahal, menurut kesaksian mahasiswa, bendera tersebut terjatuh sendiri.

Pemerintah juga sepertinya cenderung “membakar lumbung untuk membasmi tikus” dalam penanganan berita bohong. Dilansir dari Vice, Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate, menyatakan bahwa Pemerintah tak segan menutup internet apabila masyarakat menyebarkan berita bohong. Ibaratnya, supaya tidak ada tikus, lebih baik tidak ada lumbung.

Lalu, seperti apa sebaiknya Menkominfo membasmi keberadaan hoax?

Belajar dari Finlandia

Setidaknya, Pemerintah bisa belajar dari Finlandia untuk menangani hoax. Negara Eropa Utara ini menerapkan cara yang cenderung tidak sulit, namun akurat.

Dilansir dari CNN, Finlandia menekankan edukasi sedari dini sebagai cara untuk mengatasi hoax. Tidak hanya kepada anak, Helsinki juga mengajarkan orang-orang dewasa dan lanjut usia cara menangani berita-berita bohong.

Pendidikan dimulai dengan revisi kurikulum untuk menekankan pentingnya berpikir kritis. Presiden Finlandia, Sauli Niinisto, juga mengajak masyarakat untuk memperhatikan berita-berita yang diterima. Selain itu, Niinisto juga menekankan bahwa masyarakat pun memiliki peran besar dalam penanganan berita bohong.

Menurut Jussi Toivonen, Chief Communication Specialist Kantor Perdana Menteri Finlandia, melindungi demokrasi di Finlandia bukan hanya tugas Pemerintah, melainkan seluruh masyarakat. Ia juga menyatakan bahwa garda utama penghentian penyebaran hoax ada di guru Taman Kanak-kanak.

Pendidikan berpikir kritis pun ditekankan di sekolah-sekolah. Siswa belajar memilah berita mana yang benar, mencari ciri-ciri berita dengan clickbait yang berpotensi menggiring informasi ke arah salah, serta memasukkan fact checking sebagai unsur utama dalam pemilahan berita.

Finlandia memang secara geografis sangat jauh dari Indonesia. Namun, tidak ada salahnya jika metode yang diterapkan dicoba di sini. Indonesia memang sangat jauh dari memberantas hoax seratus persen. Selain itu, waktu yang dibutuhkan pun tidak sebentar. Namun, jika Pemerintah, terutama Menkominfo, serius dalam pengangan hal ini, serta apabila masyarakat mau diajak memberantasnya bersama, maka hasilnya pun bisa dilihat ke depannya.

Comment