Cherrypicking dalam Hasil Penghitungan Suara BPN Prabowo-Sandi

Klaim kemenangan Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Calon Presiden-Wakil Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, mengundang pertanyaan. Pasalnya, klaim kemenangan itu diketahui berasal dari ‘hasil perhitungan internal’ yang dilakukan oleh BPN Prabowo-Sandi dan seringkali berbeda dengan hasil hasil perhitungan berbagai lembaga, termasuk hasil perhitungan KPU yang masih dilakukan.

BPN Prabowo-Sandi pada awalnya mengklaim kemenangan dengan jumlah suara yang tidak tanggung-tanggung, yakni sebesar 64%. Kemudian, BPN mengubah klaimnya dengan menyatakan bahwa mereka berhasil meraup suara 62% menurut hasil hitungan C1. Yang termutakhir, BPN mengklaim dalam acara Mengungkap Fakta-Fakta Kecurangan Pilpres 2019 pada Selasa, 14 Mei 2019. Klaim hasil yang berubah-ubah ini menimbulkan tanda tanya di masyarakat serta pemerhati politik mengenai metodologi penghitungan suara yang mereka lakukan.

Kumparan melakukan investigasi dengan melakukan penghitungan data berdasarkan cherrypicking hasil rekapitulasi penghitungan suara dengan meminjam data hasil penghitungan dari kawalpemilu (Kumparan, 16 Mei 2019).

Metode yang digunakan oleh tim Kumparan adalah memilih suara berdasarkan lokasi TPS dan 444.976 form C1 yang sudah terunggah (jumlah form C1 yang telah terunggah pada waktu penghitungan adalah 575.850), kemudian menghitungnya dengan metode mengurutkan hasil dari angka kemenangan Prabowo-Sandi terbesar hingga terkecil. Dalam data yang dipilih, tidak semuanya memenangkan Prabowo-Sandi, namun biasanya selisih kekalahannya tidak jauh.

Hasilnya, memang benar Prabowo-Sandi mencapai angka 54.21% suara sesuai klaim BPN (45.894.180 suara) dibandingkan dengan lawannya, Joko Widodo-Ma’ruf Amin yang hanya mencapai angka 45,79% (38.772.723 suara). Kumparan menyatakan bahwa hal ini terjadi karena C1 yang masuk memang diseleksi berdasarkan lumbung suara Prabowo-Sandi dengan rasio kemenangan tertinggi.

Cherrypicking dan Kesesatan Logika

Dalam artikelnya, kumparan menuliskan bahwa istilah cherrypicking bisa diartikan
sebagai menggunakan data yang tidak lengkap atau dipilah-pilih sesuai dengan kebutuhan
untuk dijadikan dasar argumen.

Dalam statistik, praktik cherrypicking tidak akan menghasilkan kesimpulan dari argumen yang benar, malah cenderung ‘mengarahkan’ analisis ke arah tertentu. Metode cherrypicking juga cenderung menguntungkan data pemegang argumen, karena dasar dari argumen tersebut sudah dipilih untuk menguntungkannya. Oleh karena itu, cherrypicking diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk sesat logika.

Memang, kita tidak bisa menuduh bahwa BPN Prabowo-Sandi melakukan cherrypicking dalam melakukan penghitungan ‘data internal’-nya, meskipun data yang dirilis memang mirip dengan hasil perhitungan Kumparan. Meskipun begitu, perlu diketahui bahwa tindakan cherrypicking bisa saja merugikan tidak hanya orang lain, namun diri sendiri, terlebih jika urusannya menyangkut hajat hidup banyak orang seperti ini.

Comment