Merah-Putih Terjatuh, Asrama Mahasiswa Papua Digeruduk

Pada tanggal 17 Agustus 2019, Indonesia tengah memperingati Hari Kemerdekaan. Berbagai upacara dan lomba untuk memperingati hari bersejarah ini dilaksanakan di berbagai daerah. Namun ada kasus yang justru menodai kegembiraan di hari bersejarah ini. Sekelompok mahasiswa asal Papua dituduh melakukan penistaan terhadap bendera merah putih yang menyebabkan tempat tinggal mereka di Kalasan, Surabaya dikepung oleh massa.

Muhammad, salah satu anggota ormas yang mengepung Asrama Mahasiswa Papua, menyatakan bahwa awal dari pengepungan ini adalah karena beredarnya informasi di media sosial WhatsApp melalui grup Aliansi Pecinta NKRI yang memperlihatkan bendera merah putih dipatahkan dan dibuang ke selokan. Beredarnya informasi ini kemudian menyulut beberapa ormas seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Pemuda Pancasila (PP) untuk datang ke asrama dan mengepung mahasiswa asal Papua. Namun sesampainya di TKP sekitar pukul 14:00 WIB, Jumat kemarin bendera tersebut telah terpasang kembali.

Sayangnya, Muhammad tidak puas; menurutnya, tidak pantas bendera Indonesia diperlakukan buruk dengan dibuang ke selokan. Hal ini mendorongnya untuk meminta klarifikasi lebih lanjut kepada mahasiswa di dalam asrama tersebut. Namun menurutnya setelah menunggu beberapa jam tidak ada tanggapan dari pihak mahasiswa terkait masalah tersebut. Muhammad menyatakan mahasiswa yang menempati asrama tersebut tidak terbuka dan terlihat apatis dengan duduk di teras sambil merokok.

Berdasarkan keterangan Papuana, salah satu mahasiswa Papua di asrama tersebut, memang benar rekan asramanya merupakan pelaku perusakan tersebut. Namun dia tidak menyebutkan alasan perusakan bendera itu. Papuana juga membenarkan selepas insiden itu asramanya langsung dikepung oleh sekelompok massa diikuti aparat pemerintah seperti TNI, Intelijen, Polisi dan Satpol PP. Menurutnya sejumlah massa juga melakukan perusakan terhadap bangunan asrama. Mereka juga tidak segan mencaci para mahasiswa Papua dengan kata-kata rasis.

Hal ini dibenarkan oleh Juru Bicara Mahasiswa Papua, Dorlince Iyowau, bahwa memang terjadi perusakan terhadap properti asrama oleh sejumlah massa. Namun Dorlince membantah terjadi perusakan bendera. Menurutnya, sedari Jumat pagi hingga siang, bendera masih terpasang. Namun, setelah dia kembali dari membeli makanan, benderanya tidak ada (terpasang). Menurutnya sementara mereka tidak tahu-menahu perihal bendera, namun pada pukul 15:20 WIB beberapa dari mereka kaget karena pintu asrama ditendang oleh tentara.

Hal ini menambah situasi mencekam di asrama mahasiswa Papua. Untuk mencegah situasi menjadi semakin ricuh, lampu asrama kemudian dimatikan. Menurutnya ada 15 orang yang terkepung di dalam asrama. Mereka menolak untuk beranjak keluar karena menunggu pendampingan kuasa hukum. Dorlince menambahkan bahwa pihaknya akan bersedia bekerja sama dengan aparat apabila mereka difasilitasi untuk melakukan negosiasi dengan pihak yang terkait. Namun disatu sisi  pengepungan terhadap sekelompok mahasiswa ini berlanjut ricuh. Pasalnya beberapa anggota ormas bernyanyi yel-yel untuk membantai Papua.

Kombespol Sandi Nugroho, Kapolrestabes Surabaya, menyatakan bahwa pihaknya tengah mengumpulkan barang bukti dan saksi meengenai kasus ini. Dia juga menghimbau kepada massa untuk tidak melanggar hukum dan melakukan perusakan. Dan pada siang ini (17/08) sekelompok mahasiswa asal Papua tersebut akhirnya dijemput paksa karena tak kunjung menggubris aparat untuk menyerahkan diri. Selanjutnya mereka diamankan ke Mapolrestabes Surabaya dengan diangkut ke dalam tiga truk.

Melihat bagaimana kasus ini bisa terjadi tentu timbul pertanyaan mengapa sesuatu yang belum jelas bisa menimbulkan kericuhan besar seperti ini. Hal ini memperjelas bagaimana opini publik terbentuk dari informasi yang sifatnya parsial. Di tengah keriuhan perayaan kemerdekaan, kasus ini menjadi noda sekaligus pekerjaan rumah bagi kita semua untuk memaknai kemerdekaan dengan cara yang lebih inklusif. Tentunya pelaku perusakan bendera harus diproses melalui hukum namun perlukah merusak dan bersifat rasis, hal ini kemudian menjadi pertanyaan lanjutan.

Comment