Warga Berlin Bersama Runtuhkan Tirai Besi

Tiga puluh tahun yang lalu, Tembok Berlin akhirnya runtuh. Tembok yang membentang sepanjang 155 km ini memisahkan Berlin Barat yang merupakan eksklaf Republik Federal Jerman dengan Berlin Timur yang dikuasai Republik Demokratik Jerman. Runtuhnya tembok ini menjadi ‘pukulan terakhir’ bagi Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur), yang setahun setelahnya akhirnya menyatu dengan Republik Federal (Jerman Barat).

Proses persatuan antara Jerman Timur dan Barat berlangsung lama dan berdarah-darah. Warga kedua negara yang terpisah akibat Tirai Besi yang dibangun Soviet yang jadi korbannya. Meskipun ditekan dari berbagai arah, masyarakat Jerman Timur tidak takut dan bersama warga Barat meruntuhkan tembok yang berdiri lama.

Sebenarnya, bagaimana proses runtuhnya tembok yang menandai robohnya Tirai Besi tersebut?

Proses Reunifikasi

Setelah Perang Dunia II, Jerman dibagi oleh Sekutu menjadi empat wilayah pendudukan, sesuai dengan Perjanjian Postdam:

  • Bremen, Hamburg, Bavaria, Wurttemberg-Baden, dan Hessen dikuasai AS;
  • Schleswig-Holstein, Niedersachsen, dan Nordrhein-Westfalen dikuasai Inggris;
  • Rhineland-Pfalz, Baden, dan Wurttemberg-Hohenzollern diduduki Prancis dengan Saarland menjadi protektorat Perancis;
  • Mecklenburg-Vorpommern, Brandenburg, Sachsen-Anhalt, Sachsen, dan Thueringen diduduki Uni Soviet.

Selain itu, Berlin juga dibagi menjadi empat bagian yang diduduki Prancis, Inggris, AS, dan Soviet.

Namun, akibat tensi yang meninggi pada 1946-47 antara Inggris-AS, Perancis, dan Soviet, rencana reunifikasi Jerman tidak terjadi. Perancis menginginkan Jerman kembali dipecah menjadi berbagai negara-negara kecil seperti sebelum 1870, Inggris dan AS menginginkan persatuan, sementara Soviet menginginkan Jerman menjadi negara komunis. Pada akhirnya, wilayah yang diduduki Inggris, AS, dan Perancis bersatu menjadi Republik Federal Jerman dengan Berlin Barat menjadi eksklaf Republik Federal. Sementara itu, wilayah yang diduduki Soviet menjadi Republik Demokratik Jerman.

Perkembangan Republik Federal (Jerman Barat) dan Republik Demokratik (Jerman Timur) pun berbeda jauh. Industrialisasi di wilayah Jerman Timur dikebut, mengejar industrialisasi di Lembah Ruhr yang sudah berdiri sejak Unifikasi Jerman pertama pada 1870. Tentunya, arah industrialisasi pun berbeda. Di Timur, pabrik-pabrik dan para pekerja diarahkan untuk membantu Soviet menyongsong Perang Dingin. Sementara itu, Jerman Barat membuka perusahaan-perusahaan Barat untuk berinvestasi.

Tentunya, akibat gaya hidup dan kesejahteraan yang sangat berbeda, banyak warga Jerman Timur yang lari ke Barat melalui Berlin. Karena itu, Pemerintah Jerman Timur pada awalnya membangun kawat berduri di tengah Kota Berlin. Kawat berduri ternyata tidak menghalangi rakyat Jerman Timur untuk lari ke Jerman Barat. Pemerintah Jerman Timur pun akhirnya membangun sebuah tembok besar untuk menghalangi warga Jerman Timur lari ke Barat. Siapapun yang mendekati tembok tersebut akan ditembak.

Tembok tersebut seolah menjadi peringatan bagaimana hidup di Timur berjalan. Di Barat, hidup seolah jauh lebih mudah dan bebas. Di sisi lain, di Timur, sebagaimana negara-negara di balik Tirai Besi, kebebasan berpendapat dan pers dikekang. Gerak-gerik warga dikekang oleh polisi rahasia, Stasi. Sedikit saja komentar antipemerintah keluar dari mulut warga, ancaman penjara hingga hukuman mati mengintai. Sementara, Jerman Barat mengusung nilai-nilai demokrasi dan kebebasan berpendapat.

Pada akhirnya, tanggal 9 November 1989, masyarakat Jerman Timur lelah. Warga Berlin Barat dan Timur berkumpul dalam solidaritas untuk meruntuhkan Tembok Berlin. Akhirnya, seluruh warga Berlin berdiri di sekitar Tembok untuk bersama meruntuhkan tembok tersebut. Polisi Berlin Timur pun pasrah dan mengizinkan warga pergi ke sisi barat kota. Persatuan Jerman pun akhirnya benar-benar terwujud pada 3 Oktober 1990.

 

Comment