Berdamai dengan Virus Corona

321

Merespons pernyataan WHO bahwa “virus corona mungkin tidak akan hilang dari muka bumi”, Pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa akhirnya kita harus berdamai dengan virus ini.

Cukup variatif tanggapan terkait pernyataan ini, ada yang memaklumi, ada pula yang menghujat.

Jika kita melihat ke belakang, akan kita dapati bahwa penanganan wabah ini tidak lepas dari pro-kontra. Entah itu terkait kebijakan pemerintah maupun kelakuan dan kebebalan masyarakat.

Rasa-rasanya tidak bisa lagi kita bertanya “Pemerintah yang tidak mampu atau rakyat yang bebal”, ya dua-duanya boss!

Nyelenehnya Warga

Kita mundur sedikit saja, masih cukup hangat soal ‘nostalgia berjamaah’ yang kemudian jadi lautan manusia di sebuah gerai fast food di Sarinah, Jakarta. Netizen kali ini benar-benar ditantang untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Nostalgia penutupan McDonald’s Sarinah. Sumber: hipwee.com

Itu lautan orang habis dimaki, dari anak sekolah sampai yang mulai ubanan. Siapa yang tidak sedih? Berbulan-bulan di rumah biar sesegera mungkin normal, malah dengan gagahnya manusia-manusia itu bernostalgia.

Belum lagi mba Indira yang dicibir habis-habisan karena dia memperoleh ‘berkat’ kebal corona. Cara bicara yang nyablak ala beberapa komedian belum cukup mampu melindunginya dari netizen yang iri akan ‘berkat’ yang diperolehnya.

Indira memang pantas menerima pelajaran, dengan catatan yang memberi pelajaran sudah menyinkronkan perbuatannya dengan pelajaran yang dia berikan tersebut.

Bukan tidak mungkin netizen budiman yang memberi pelajaran adalah penganut paham yang sama dengan Indira, namun selayaknya sebuah paham yang hanya mampu menjadi payung, persoalan praktik dari orang-orang di bawah payung itu ya lain urusan.

Baca juga: Indira Kalistha Tidak Bersalah

Kita namai saja paham ini ‘Kebalism’, atau… ‘Congorism’?, ‘Asbunism’?, terserah. Dengan praktik Indira yang blak-blakan dan apa adanya, sedangkan netizen yang menghujatnya sebetulnya sepaham namun menolak terlalu eksplisit dalam menunjukkan posisi mereka.

Nah, jika penganut paham kebalism di atas bisa saling menghujat, artinya selama ini mungkin saja kita terkecoh.

Ya, terkecoh oleh lebih banyaknya orang yang menghujat Indira dibanding yang membelanya, sekilas hal tersebut bisa jadi berita baik dalam artian banyak orang yang sebenarnya melaksanakan protokol dan Indira hanyalah outlier.

Namun, akan menjadi berita buruk jika ternyata banyak juga di antara penghujat tersebut yang sebenarnya adalah penganut kebalism!

Nyelenehnya Pemerintah

Memang dari awal sudah banyak hal-hal nyeleneh dari kita dan pemerintah yang bikin corona jadi makin sayang. Pas corona lagi milah-milah target misalnya, Pak Menhub malah nantang pake nasi kucing.

Koordinasi pemerintah juga bikin gemes, bapak yang ini bilang akhir Mei umur 45 tahun ke bawah sudah bisa kembali berkegiatan, bapak yang itu dengan nada tinggi menyatakan tidak ada pelonggaran PSBB, oke boss! Suka-suka kalian.

Sumber: bisnis.tempo.co

Hal-hal di atas sudah cukup berhasil bikin gemes publik. Ya, pada akhirnya beberapa dari kita hanya meneriaki muka kita sendiri. Entahlah, mungkin emosi cukup efektif untuk mengutuki orang lain, tapi kicep dalam hal mengambil pelajaran.

Dari segala keanehan di atas, saya pribadi bingung juga mau saling menyalahkan, gak warga, gak pemerintah kelakuannya wagadigidigidaw. Semuanya ada di sini, di rumah kita. Maka sebenarnya tidak ada yang tidak pusing di sini.

Ibu saya pusing ga ada pemasukan, bapak saya pusing tidak bisa ke lapo tuak, saya pusing karena mereka pusing, karena kalau mereka sudah pusing saya jadi merasa berat menambah kepusingan dengan meminta uang beli kuota buat kuliah.

Tetapi, daripada mereka pusing nantinya lihat IP semester saya, saya tega saja mintanya.

Ngomong-ngomong soal pusing, anda bisa tanya dokter manapun bahwa pusing (sakit kepala) dapat dipicu oleh kemarahan. Kemarahan jelas cukup setia mondar-mandir di ruang publik kita.

Salah satu provider ternamanya adalah DPR-RI, mulai dari pembahasan RKUHP dan Omnibus Law yang tetap jalan padahal lagi ada wabah, sampai yang mungkin sebagian orang masih marah akan hal ini sampai sekarang, yakni UU Minerba (vox investor vox dei).

Belum lagi pengesahan Perpu No. 1 Tahun 2020 jadi Undang-undang, yang dalam salah satu pasalnya ngasih excuse buat kesalahan dalam hal keuangan entah itu sengaja atau tidak sengaja (Padahal di UU Tipikor, korupsi dalam keadaan darurat diganjar hukuman mati).

Sumber: nasional.tempo.co

Hal-hal ini bukan tidak mungkin bernasib seperti kasus mba Indira jika seandainya netizen memahaminya sebaik memahami ‘berkat’ mba Indira.

Dan yang terbaru, penaikan tarif BPJS oleh bapak Presiden Joko Widodo setelah sebelumya sudah dibatalkan oleh Mahkamah Agung atas tuntutan Komunitas Pasien Cuci Darah betul-betul menyakiti banyak orang, bukan hanya pasien yang sudah sempat sujud syukur tersebut.

Sulit untuk mengekspresikan kekecewaan. Saya tahu para pembuat kebijakan mungkin juga sudah lelah dan frustrasi menghadapi wabah saat ini, tetapi dalam beberapa bahkan banyak langkah, berhak kami untuk merasa dikhianati.

Normal Baru

Nah, di atas sudah jelas bahwa sepanjang pandemi, kita sering dibikin gemes oleh berbagai kisruh. Dengan start nasi kucing, ditambah bumbu-bumbu mekdi, mba Indira, omongan plitat plitut diantara sesama pejabat, dan berbagai kenyelenehan lainnya.

Sampai sini, wajar saja ketika ada keputusan untuk berdamai dengan corona, warga hanya bisa tertawa.

Mungkin akan lain ‘harga’ dari pernyataan tersebut jika seandainya Pak Presiden dan jajarannya memilih untuk mengimbau masyarakat untuk waspada di awal, lalu diikuti dengan penegakan PSBB, serta adanya kejelasan langkah dan kebijakan yang tepat guna.

Mungkin #IndonesiaTerserah tidak akan pernah muncul ke permukaan jika sedari awal langkah-langkah solid dan tepat guna diambil setiap orang di negeri ini.

Namun, apa mau dikata? Semua sudah terjadi. #IndonesiaTerserah sudah menjadi pilihan yang tak terhindarkan, angka 20 ribu lebih pasien positif sudah jadi buah tingkah kita.

Yang bisa kita lakukan saat ini adalah tetap jaga kekompakan, turuti protokol kesehatan, redam amarah, kawal pemerintah, jaga mereka yang rentan. Karena akhirnya kita harus akui, masih banyak yang kurang beruntung untuk bisa tetap makan walau hanya di rumah.

Petugas SPBU menggunakan pelindung wajah saat melayani pengendara. Sumber: money.kompas.com

Entahlah, entah disparitas yang sedemikian parah, atau memang wabah yang kian ‘marah’, hingga rasanya ratusan karung beraspun tak bisa menahan kita di rumah.

Seandainya manusia adalah organisme soliter, mungkin tanpa PSBB pun, wabah sudah minggat. Namun, fakta tetap fakta. Realita manusia sebagai mamalia sosial harus dihadapi. Dalam kenyelenehan kita menghadapinya, kita bersaudara.

Pilihan yang tersisa: Saling jaga. Selamat datang, normal baru.

 

—–

TERBITKAN ARTIKEL ANDA

Silakan kirim artikel pendapat anda untuk diterbitkan di Geolive Sudut Pandang ke: geolive.id@gmail.com | Subject: Sudut Pandang – [Judul artikel] | Lampirkan juga profil singkat dan foto terbaru anda.


Comments