Bintang Emon dan Komedi sebagai Kritik Sosial

216

Beberapa waktu lalu, komika Bintang Emon menyuarakan pendapatnya yang dipoles dengan komedi mengenai tuntutan yang diberikan Jaksa Penuntut Umum kepada terdakwa dalam kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Bintang Emon menyuarakan pandangan mengenai kejanggalan dan ke-tidak logis-an pernyataan “niat nyiram badan gak sengaja ke muka” yang menjadi alasan keringanan tuntutan hukuman bagi terdakwa kasus Novel tersebut.

Beberapa saat setelah hal pendapat Bintang Emon menjadi trending, tak disangka dia diserang oleh beberapa akun bodongan pada platform media sosial bernama Twitter. Akun bodong tersebut menyebutkan bahwa Bintang Emon telah mengkonsumsi narkoba jenis  Sabu.

Pernyataan dari akun bodongan ini sangatlah jauh dari testimoni orang-orang terdekat Bintang Emon, di mana menurut pengakuan komika lainnya, Bintang Emon sendiri merupakan pribadi yang sangat jauh dari kata Narkoba bahkan untuk menyentuh rokok saja masih enggan.

Bintang Emon sendiri sudah membuktikan bahwa dirinya bebas dari segala obat-obatan terlarang dengan mengunggah foto surat keterangan bebas Narkoba dari Rumah Sakit Pondok Indah di media sosial Instagram.

Terlepas dari kasus penuduhan dan penyebaran berita palsu atau (HOAX) yang di lakukan oleh akun bodongan atau yang sering kita kenal dengan buzzer tersebut,  hal ini merupakan suatu peristiwa yang sangat memperihatinkan.

Sangat merugikan dan memalukan bagi masyarakat Indonesia, ketika seorang warga negara ingin menyuarakan pemikirannya, malah dipaksa untuk diam dengan cara diserang oleh akun-akun anon.

Kekecewaan terbesar saya terletak pada budaya masyarakat, di mana demi keuntungan segelintir kelompok, mereka rela menghalalkan segala cara, termasuk membungkam pemikiran dari pemuda-pemudi kreatif seperti Bintang Emon.

Hal ini sungguh sangat bertentangan dengan apa yang dicita-citakan oleh founding father kita saat merancang negara Indonesia, yakni Ir. Soekarno, yang mengatakan “aku lebih senang pemuda yang merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa ini, daripada pemuda kutu buku yang hanya memikirkan diri sendiri”.

Perlu diketahui, pengutipan perkataan soekarno tersebut dalam tulisan ini sama sekali bukanlah untuk merendahkan pihak yang sering membaca buku atau kutu buku.

Perkataan Soekarno lebih dimaksudkan untuk memotret minimnya pemuda Indonesia yang memikirkan dan membicarakan isu-isu sosial-politik di sekitarnya. Jika Soekarno masih hidup saat Bintang Emon diserang, dia tentunya akan sangat murka terhadap upaya penyerangan terhadap komika tersebut.

Seorang founding father lainnya, yakni Tan Malaka, berkata bahwa merdeka haruslah 100 persen dan itu bukanlah sesuatu yang dapat ditawar. Melihat kondisi Indonesia saat ini yang. dipenuhi oleh buzzer, artinya kita belum merdeka 100 persen.

Kita justru masih dijajah secara halus oleh segelintir orang yang berupaya memanipulasi dan mengarahkan pemikiran masyarakat sesuai keinginannya melalui berita palsu.

Maka, di sinilah peran pemuda hari ini. Mencerdaskan masyarakat dan memerangi informasi yang salah atau bermasalah. Dalam kasus Bintang Emon, semua suara bersatu mengawal kebenaran. Ini pertanda baik dan harus dijaga.

Hari ini, kita melihat masyarakat Indonesia mulai berkembang dalam kerangka pikir berbasis ilmu pengetahuan, sehingga mulai bisa mengetahui dan membedakan berita valid dan berita bohong (hoaks).

Dengan adanya generasi muda yang dapat menggunakan teknologi dengan optimal untuk menguji valid tidaknya sebuah informasi, lama-kelamaan informasi bohong akan semakin sulit disebarkan dan dipercaya, karena bisa segera dibantah (debunked).

Asalkan upaya ini konsisten dilakukan dalam segala hal, bukan hanya ketika faktanya disukai masyarakat, melainkan juga yang tidak disukai, maka Indonesia akan lebih maju ke depannya.

Konsisten menumbuhkan budaya memerangi informasi yang salah, senantiasa menguji dan mencari fakta, sekaligus juga menerima fakta meskipun tidak suka, saya rasa Indonesia akan menimbulkan suatu kemajuan di pada budaya masyarakatnya.

Demi kemajuan Indonesia, kita semua harus bahu membahu dengan pemerintah dalam melakukan pembangunan Indonesia.

Jika pemerintah membangun Indonesia dari sisi ekonomi, politik, dan lainnya maka kita sebagai generasi baru yang lebih unggul dalam menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengungkap kebenaran dapat membantu dengan memperbaiki budaya di Indonesia ini.

Jika pemerintah memerangi informasi yang salah dengan jalur hukum, maka kita juga tentu saja dapat memerangi hal itu dengan memerangi kebohongan atau informasi tidak berdasar dan tidak mengkonsumsi atau menyebarkan informasi yang salah.

 

—-

TERBITKAN ARTIKEL ANDA

Silakan kirim artikel pendapat anda untuk diterbitkan di Geolive Sudut Pandang ke: geolive.id@gmail.com | Subject: Sudut Pandang – [Judul artikel] | Lampirkan juga profil singkat dan foto terbaru anda.


Comments