Kebangkitan Perangai Ilmiah


Scientific temper, yang dapat diterjemahkan menjadi “perangai ilmiah”, dicetuskan pertama kali oleh Jawaharlal Nehru pada tahun 1946.

Sebelum masuk ke pembahasan lebih jauh, tampaknya perlu diartikan dulu apa itu perangai ilmiah.

Sederhananya, konsep ini berarti perangai (watak) bertualang guna menggali kebenaran dan pengetahuan baru yang melibatkan sikap keterbukaan seseorang untuk berani mengubah pendapat lamanya berdasar bukti baru, menolak gagasan tanpa pembuktian, berpijak pada fakta yang dapat teramati, dan memiliki kedisiplinan menggunakan akal (penalaran).

Konsep ini pada umumnya masih dianggap sebagai kemewahan atau “pupur” untuk mempercantik negara modern.

Bahkan masyarakat umum mungkin menganggap bahwa perangai ilmiah ini merupakan sesuatu yang terlalu canggih sekaligus tak berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Jawaharlal Nehru sendiri sejak awal sudah menekankan bahwa perangai ilmiah dibutuhkan semua orang, apapun profesinya.

Jawaharlal Nehru – Sumber foto: Zee News India | www.zeenews.india.com

Namun, perangai ilmiah kenyataannya dianggap oleh banyak pihak sebagai sesuatu yang hanya dibutuhkan para ilmuwan dan peneliti saja, tidak relevan untuk kehidupan masyarakat awam. Menariknya, pandangan ini sekarang terpaksa berubah.

Pada saat menghadapi pandemi Covid-19 seperti sekarang, justru tindakan atau kebijakan yang melawan perangai ilmiah dapat membahayakan umat manusia secara keseluruhan.

Perangai Ilmiah di masa wabah ini bukan kemewahan atau sekadar “pemanis” lagi, tetapi justru perangkat utama perlindungan kemanusiaan ke depan.

Pra Wabah Covid-19

Di India sendiri sampai sebelum wabah Covid-19 terjadi, perangai ilmiah mulai luntur maknanya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Padahal, mengembangkan perangai ilmiah merupakan satu fundamenal duty atau tugas dasar setiap warga negara India yang ditetapkan dalam konstitusinya (Pranoto, 2015). Maka, sesungguhnya setiap tindakan warga negara India yang menentang perangai ilmiah dapat dianggap tak mengindahkan konstitusi.

Namun, ironisnya, menegakkan perangai ilmiah dalam kehidupan bermasyarakat amat sulit di zaman digital ini. Mungkin masuk akal jika pengabaian terhadap perangai ilmiah terjadi di tataran masyarakat awam, tetapi ternyata juga terjadi di kalangan terpelajar bahkan sampai di masyarakat akademik di India.

Menyedihkan sekaligus memalukan, ternyata kalangan masyarakat yang mengenyam pendidikan tinggi, juga ada yang turut menggerogoti perangai ini.

Ilustrasi pertama, di tahun 2017, Deputi Dirjen dari Departemen Meteorologi India memperkarakan seorang bekas pembantunya ke kantor Polisi di kota Pune atas dugaan pengelabuan atau penipuan.

Kejadian ini dilaporkan di Hindustan Times pada tanggal 8 September 2017. Diberitakan bahwa PRT tersebut pada saat awal melamar mengaku dirinya dari kalangan Brahmana dan suaminya masih hidup.

Ternyata belakangan baru diketahui bahwa Ibu PRT itu janda dan bukan dari kalangan Brahmana. Temuan ini membuat marah ilmuwan senior peneliti iklim tersebut, karena beberapa makanan dalam upacara keagamaan di rumahnya diyakini dia harus dimasak oleh kalangan Brahmana dan sekaligus bukan janda.

Maka, sang ilmuwan merasa telah dirugikan, karena telah kehilangan berbagai keberuntungan yang semestinya diperoleh melalui ritual keagamaan tersebut.

Ilustrasi kedua, di akhir tahun 2019, para mahasiswa dari Banaras Hindu University (BHU) di kota Varanasi berdemonstrasi menentang penunjukan Prof. Firoz Khan untuk mengajar Sanskerta.

Menurut para pendemo, tidak “benar” seorang muslim mengajar sebuah bahasa yang kerap terhubung Hinduisme. Kejadian ini dilaporkan di BBC News pada tanggal 29 November 2019.

Mahasiswa Banaras Hindu University berdemonstrasi memprotes penunjukan seorang dosen Muslim untuk mengajar sanskerta – Sumber foto: Hindustan Times | www.hindustantimes.com

Pihak universitas awalnya tak mengindahkan tuntutan pendemo dan mengatakan bahwa penunjukan Firoz Khan memang sudah sesuai aturan BHU serta telah disepakati (oleh tim seleksi) sebagai kandidat terbaik. Namun, mahasiswa pendemo tetap ngotot bahwa jika seorang profesor muslim mengajar Sanskerta, maka keagungan Hinduisme berkurang.

Ada juga seorang pengajar BHU yang membela Khan. Dia mengatakan bahwa sudah lama atau biasa seorang Hindu mengetuai departemen di BHU yang mencakup Bahasa Urdu, Farsi, dan Arab. Bahkan, lanjutnya, Ketua Departemen yang beragama Hindu tersebut memiliki kualifikasi akademik untuk mengajar Quran.

Agama dan bahasa merupakan dua hal yang benar-benar berbeda, pungkasnya. Namun, Prof. Khan akhirnya kalah dan tak dapat mengajar Sanskerta. Beliau tetap mengajar di sana tetapi pindah departemen.

Wabah Covid-19

Pada saat wabah Covid-19 meledak, kebangkitan perangai ilmiah tampaknya menjadi keniscayaan. Contohnya, pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk menutup Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah untuk disemprot cairan anti-hama guna membasmi segala sumber penyakit.

Kebijakan pemerintah Arab Saudi ini sungguh mengirimkan pesan yang tegas dan lugas bahwa sains relevan dengan kehidupan sehari-hari sekaligus dibutuhkan, bahkan, dalam kehidupan keagamaan.

Di dunia, sejumlah Gereja Katolik sudah mengeringkan mangkuk air suci di pintu masuknya.  Sekolah berbasis agama juga menutup sekolahnya. Bahkan, ada kelompok keagamaan yang sebelumnya menawarkan pelayanan untuk penyembuhan, juga sekarang menghentikan layanannya.

Di California Utara ada gereja yang 4 bulan lalu menjanjikan kebangkitan seorang anak berusia 2 tahun, tetapi sekarang juga turut menghentikan aktivitas kunjungan ke rumah sakit yang biasa mereka lakukan.

Namun, tidak sedikit pula pernyataan di ruang publik di dunia yang justru menentang perangai ilmiah. Bahkan, di AS, ada tokoh agama yang menyatakan bahwa Covid-19 dikirim Tuhan untuk menghukum pelaku homoseksual.

Di Indonesia, ada tokoh agama yang menyatakan bahwa virus ini merupakan tentara Allah untuk menghukum Tiongkok yang bertindak tak adil pada suku Uyghur. Sedang di India, ada tokoh agama yang menyatakan bahwa virus ini dikirim untuk menghukum orang yang non-vegetarian atau pengonsumsi hewan.

Bukan saja berbagai pernyataan di ruang publik di atas telah mengabaikan gagasan sebab-akibat dan menentang perangai ilmiah, tetapi polanya memanfaatkan wabah ini sebagai kesempatan guna membenarkan kesalehan dirinya sekaligus mengambinghitamkan yang bukan golongannya.

Bukannya wabah membuat manusia semakin bersahaja bahwa pengetahuannya belum cukup, tetapi dengan membonceng gerbong wabah virus ini, malah menjadikan sebagian manusia takabur bahwa dirinya sudah benar, serta mengeluarkan pernyataan berbasis stereotyping, rasisme, dan kebencian pada liyan (yang lain/berbeda).

Pada umumnya, semua orang sudah paham bahwa pengetahuan ilmiah merupakan modal utama untuk menyejahterahkan bangsa dan negara hari ini, terutama secara ekonomi. Ini sudah jelas.

Namun demikian, peran budaya berperangai ilmiah sebagai sarana untuk memberdayakan warga terpinggirkan justru terabaikan. Padahal, perangai ilmiah merupakan perkakas emansipasi utama warga negara biasa untuk menyetarakan dirinya, serta membolehkannya terlibat dalam bernegara.

Pendeknya, perangai ilmiah diterima dan disokong manakala menghasilkan uang, seperti melalui produk berbasis sains dan teknologi, namun peran perangai ilmiah untuk mendorong emansipasi warga dalam proses bernegara tidak begitu dipedulikan.

Warga Amerika berdemonstrasi menolak pembatasan aktivitas (lockdown) akibat pandemi dengan alasan kebebasannya adalah yang paling utama – Sumber foto: The Guardian | www.theguardian.com

Kebijakan publik kerap mengabaikan perangai ilmiah.

Parahnya, di zaman politik tribalisme dan identitas menguat seperti sekarang, perangai ilmiah benar-benar menjadi gagasan langka di wacana publik serta dalam pengambilan kebijakan publik.

Ke depan, perangai ilmiah di ruang publik perlu dikembangkan pada tataran individu, organisasi, institusi, lokal, sampai global. Media massa dan pendidikan adalah yang paling berperan untuk memupuk perkembangan perangai ilmiah di masyarakat.

Keduanya harus membangun strategi guna secara sistematis menggeser wacana publik ke titik seimbang yang tidak memopulerkan pernyataan serta tindakan yang melawan perangai ilmiah. Tetapi, setidaknya beri porsi yang seimbang untuk memanggungkan perangai ilmiah juga di wacana publik.

Keduanya harus membangun strategi guna secara sistematis menggeser wacana publik ke titik seimbang yang tidak memopulerkan pernyataan serta tindakan yang melawan perangai ilmiah.

Namun, jika media massa masih tetap ingin memuat pernyataan menentang perangai ilmiah (untuk tujuan bisnis misalnya), setidaknya beri porsi yang seimbang juga untuk memanggungkan perangai ilmiah di wacana publik.

Berperangai ilmiah di masa pandemi ini cukuplah dengan sering mencuci tangan, menjauh dari kerumunan orang, dan membatasi keluar rumah. Mari bersama memberi kesempatan sains dan ilmu kedokteran bangkit di ruang publik di masa wabah luar biasa ini.

 

—–

TERBITKAN ARTIKEL ANDA

Silakan kirim artikel pendapat anda untuk diterbitkan di Geolive Sudut Pandang ke: geolive.id@gmail.com | Subject: Sudut Pandang – [Judul artikel] | Lampirkan juga profil singkat dan foto terbaru anda.


Comments