Normal Baru dan Urgensi untuk Benar-benar Berubah

462

Berakhirnya masa lockdown atau PSBB di berbagai wilayah di dunia menandai babak baru pandemi COVID-19 yang disebut sebagai new normal atau normal baru.

Menurut Tirto.id, normal baru adalah tatanan, kebiasaan, dan perilaku baru yang berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat. Hal ini tentunya dilakukan agar virus COVID-19 tidak semakin menyebar.

Normal baru ini justru seharusnya jangan dijadikan ajang untuk kembali ke kebiasaan lama sebelum adanya PSBB akibat pandemi! Di mana hidup kita yaaa sudah begitu lagi, kembali seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa.

Ada banyak hal yang perlu kita ubah dari cara hidup kita sebelum pandemi. Pandemi ini terjadi akibat suatu virus yang tadinya hanya ada di hewan lain jadi pindah ke manusia (biasa disebut “zoonosis“).

Dalam artikel berjudul Ecological Reflections on the Corona Virus yang ditulis oleh Vandana Shiva, seorang aktivis lingkungan, disebutkan bahwa “…seiring berkembangnya peradaban manusia, penyakit baru juga akan semakin bermunculan“.

Kemudahan transportasi, menjamurnya pabrik-pabrik, pasokan pangan yang semakin terbatas, dan model-model pertanian yang mengganggu ekosistem merupakan penyebab munculnya penyakit-penyakit baru di masa lalu, saat ini, dan di masa depan. Termasuk pandemi COVID-19 ini.

Hal yang memicu terjadinya perpindahan dari hewan lain ke manusia adalah perilaku konsumsi daging hewan liar di Cina.

Kemudian, yang membuatnya menyebar dengan mudah dan cepat adalah kecanggihan teknologi transportasi yang memberikan kemudahan dan kecepatan untuk kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Dalam 2 jam saja, dari Jakarta, kita sudah pindah ke Singapura. Dalam satu hari, orang dari Cina bisa berpindah ke berbagai negara di dunia.

Bagi Shiva, adanya pandemi ini merupakan harga yang harus dibayar oleh spesies manusia yang serakah dan tidak memperhitungkan pemanfaatan sumber daya dengan cermat. Kita pakai sumber daya dengan boros, untuk keperluan yang tidak jelas, dan tidak memikirkan keberlanjutan dari sumber daya tersebut.

Sumber: antara foto/cnnindonesia.com

Sudah berkali-kali kita ketiban masalah karena tidak rasional dalam mengelola sumber daya alam. Misalnya saja wabah virus Ebola yang beberapa kali muncul, salah satunya pada tahun 2014-2016 yang mengakibatkan lebih dari 11.000 orang di Afrika Barat meninggal dunia.

Menurut Profesor John E. Fa dari Manchester Metropolitan University, Ebola muncul karena perubahan lingkungan yang disebabkan manusia. Ketika manusia membuka lahan dan membakar hutan, manusia akan terhubung dengan lebih banyak penyakit yang disebabkan hilangnya suatu spesies di ekosistem tersebut.

Sebuah tim peneliti menerbitkan hasil temuan mereka di Jurnal Nature pada tahun 2017. Mereka menemukan hubungan antara penggundulan hutan dan virus Ebola di 25 kasus dari 27 kasus sejak awal tahun 2000-an hingga 2014.

Kerusakan lingkungan akibat penggundulan hutan menyebabkan ada spesies yang hilang atau berpindah. Dari situ kemudian virus pindah dan menyebar di sekitar lingkungan tempat manusia beraktivitas.

Faktor lain penyebab virus Ebola muncul di populasi manusia adalah karena penduduk setempat yang menangkap daging hewan liar seperti kelelawar, primata atau kijang, lalu membawanya ke pasar. Hal ini membuat virus mudah menjangkiti manusia dan menyebar dengan cepat.

Fakta lain juga diperkuat dari data yang didapatkan Keesing, dkk. Setengah dari penyakit zoonosis yang muncul di populasi manusia sejak tahun 1940 terjadi akibat perubahan penggunaan lahan, perubahan pertanian atau praktik produksi makanan, serta perburuan satwa liar. 

Laporan IUCN dalam Aguirre, pada 2017, terdapat 8.688 spesies yang terancam punah disebabkan oleh eksploitasi berlebihan (72%), aktivitas pertanian (62%), dan perubahan iklim (19%). Hingga awal juni tahun ini, IUCN melaporkan lebih dari 31.000 spesies terancam punah.

Urgensi untuk Berubah

Jangan kaget jika di masa depan akan semakin bermunculan lebih banyak lagi penyakit-penyakit zoonosis. Selain COVID-19, sejauh ini kita sudah bertemu beberapa virus lain yang pindah dari hewan lain ke manusia, yakni Ebola, Pes, Sars, dan Flu Burung.

Lantas, kita harus bagaimana?

Pertama-tama, kita perlu sadar bahwa saat ini kita tengah berada di zaman antroposen, yakni zaman di mana faktor yang paling berpengaruh membentuk dan mengubah kehidupan di muka bumi adalah aktivitas manusia, bahkan melebihi proses geofisika bumi.

Berdasarkan laporan The Guardian, bukti utama bahwa kita memasuki zaman antroposen adalah tingkat kepunahan hewan dan tumbuhan dalam jangka panjang yang sebagian besarnya didorong oleh aktivitas manusia.

Berdasarkan tingkat kepunahan spesies yang ada hari ini, kita dapat memprediksi bahwa 75% spesies di muka bumi akan punah dalam beberapa abad mendatang.

Penyu sisik, hewan yang dilindungi. Sumber: lingkunganhidup.co

Bukti lainnya adalah peningkatan CO2, sampah plastik, serta penggunaan pupuk kimia yang mengubah wajah ekosistem bumi. Semua ini muncul sebagai dampak aktivitas manusia.

Banyak ahli membuat laporan terkait kondisi bumi dan merekomendasikan agar manusia mulai memakai pendekatan ecocentris dalam beraktivitas di bumi. Inti dari pendekatan ecocentris ini ya manusia harus memikirkan elemen lain dalam ekosistem selain spesiesnya sendiri.

Manusia harus memandang dirinya sebagai bagian dari alam yang setara dengan bagian-bagian lainnya. Hewan lain, tumbuhan, dan habitat mereka.

Sudah seharusnya manusia memakai akal rasionalnya dalam berkonsumsi dan berproduksi. Sadar untuk mengontrol aktivitas kita, supaya eksternalitasnya (yang berpotensi merusak alam) itu dikelola, bukan dibiarkan begitu saja.

Tidak ada kata terlambat untuk berubah. Agar bumi bisa terus menyokong kehidupan organisme, termasuk manusia, mau tidak mau keseimbangan ekosistem harus dijaga. Tanpa keberlanjutan ini, kehidupan manusia pun akan terancam.

Air, udara, makanan, dan obat-obatan yang semuanya berasal dari alam akan hilang. Artinya, dengan mengukur baik-baik dampak aktivitas kita dan mengelolanya dengan tepat, kita sebetulnya sedang merawat kehidupan kita sendiri dan generasi manusia yang akan datang.

Bukan hanya itu. Perkonomian yang stabil juga tidak akan bisa dicapai apabila kita bolak-balik mengalami bencana alam dan pandemi penyakit yang menghentikan aktivitas ekonomi. Jadi, kesejahteraan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan hidup bukanlah dua hal yang bertolak belakang, justru harus dirawat dengan seiring sejalan.

Mengutip pernyataan Shiva, pemerintah juga harus memperkuat peraturan keberlanjutan lingkungan hidup. Aktivitas industri harus tetap dilakukan dengan bertanggungjawab mengelola eksternalitasnya (polusi, emisi, sampah, dll yang dihasilkan).

Negara juga berhak menetapkan batasan-batasan volume, intensitas, frekuensi, dll dalam pengambilan dan pengelolaan sumber daya untuk menjamin aktivitas industri tidak menyebabkan lingkungan hidup menjadi rusak dan tidak bisa lagi menyokong kehidupan.

Jika setelah pandemi ini kita masih tetap bebal dan tidak mau belajar untuk berubah dalam mengelola sumber daya alam, maka jangan mengeluh jika dalam beberapa tahun ke depan, pandemi datang silih berganti, ekonomi hancur dan korban jiwa berjatuhan.

Hidup dalam normal baru jangan hanya soal pembiasaan jaga jarak dan cuci tangan. Lebih dari itu, kita harus sadar tentang kesehatan manusia dan keberlanjutan alam.

Manusia harus mulai rasional dalam berkonsumsi, bukan asal beli barang berlebih-lebihan hanya karena kepengen belanja. Begitu juga dalam berproduksi, bukan asal kepengen lebih kaya tanpa tujuan jelas dengan mengorbankan keberlangsungan hidup seluruh organisme di muka bumi.

 

—-

TERBITKAN ARTIKEL ANDA

Silakan kirim artikel pendapat anda untuk diterbitkan di Geolive Sudut Pandang ke: geolive.id@gmail.com | Subject: Sudut Pandang – [Judul artikel] | Lampirkan juga profil singkat dan foto terbaru anda.


Comments