Resesi Ekonomi: Apa dan Bagaimana Menghadapinya

795

Resesi, resesi, resesi. Resesi ekonomi menghantui dunia. Semua media membicarakan ini. Potensi terjadinya resesi global, tidak terkecuali Indonesia.

Masalah ekonomi tidak bisa dihindarkan, akibat adanya pandemi COVID-19 yang berangsur-angsur melumpuhkan sistem ekonomi Dunia. IMF memprediksi bahwa kondisi ekonomi global akan mengalami penurunan pertumbuhan hingga ke angka -3%.

Sebagai pembanding, selama beberapa tahun terakhir nilai pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 4-5%.

Wait, resesi itu apa sih?

Secara umum, resesi ekonomi diartikan sebagai kondisi di mana terjadi penurunan ekonomi suatu kawasan dengan dampak menyeluruh.

Masih ribet banget ya? Hahaha intinya ya aktivitas ekonomi pada menurun lah, dari sisi penjualan, pembelian, investasi, dan lain sebagainya itu turun.

Versi yang lebih akademik nih dari NBER (Biro Riset Ilmu Ekonomi Amerika): Resesi adalah “significant decline in economic activity spread across the economy, lasting more than a few months, normally visible in real GDP, real income, employment, industrial production, and wholesale-retail sales”.

Sebenernya sama aja kan kayak yang udah saya sebut sebelumnya? Secara umum, aktivitas ekonomi mengalami penurunan.

Terus, emang kenapa kalo resesi?

Resesi menunjukkan ada penurunan aktivitas ekonomi. Aktivitas ekonomi sendiri pada dasarnya adalah segala aktivitas pemenuhan kebutuhan manusia. Artinya, ada pemenuhan kebutuhan yang hilang, entah itu dari sisi produksi maupun konsumsi.

Dari sisi produksi (alias pihak yang menyediakan atau menjual kebutuhan), penurunan aktivitasnya berdampak ke hilangnya sumber pendapatan dalam bentuk usaha, bisnis-bisnis bangkrut, yang selanjutnya juga tentunya membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan.

Dari sisi konsumsi (alias pihak yang belanja atau membeli kebutuhan), penurunan aktivitasnya berdampak ke terjadinya supply berlebih di beberapa sektor sehingga deflasi (alias harganya anjlok) atau supply kekurangan justru di sektor lainnya sehingga inflasi (alias harganya jadi naik).

Selain itu ya tentunya dari sisi konsumsi dan produksi ini sama-sama memengaruhi satu sama lain sehingga secara keseluruhan menjadi apa? Ya menjadi amsyong.

Itulah resesi. Di mana secara umum kondisi ekonomi mengalami penurunan, menyebabkan pemenuhan kebutuhan manusia jadi terganggu.

Sejak Revolusi Industri, tren ekonomi makro jangka panjang di sebagian besar negara adalah pertumbuhan ekonomi.

Resesi ekonomi memiliki dampak yang besar bagi setiap individu. Menurut Federal Reserves (Bank Sentral US), sebesar 17.000 lapangan pekerjaan hilang akibat adanya resesi.

Kalo gak segera diatasi, resesi akan berlangsung dalam jangka waktu lama sehingga menjadi depresi ekonomi, yang bisa berakibat pada kebangkrutan ekonomi atau kejatuhan ekonomi alias kolaps.

Terus, apa yang bisa dilakukan negara untuk menanggulangi dampak resesi?

Pemerintah bisa melakukan kebijakan fiskal untuk memulihkan ekonomi dari resesi. Kebijakan fiskal di sini diberlakukan melalui perubahan dalam pengeluaran pemerintah dan pajak.

Jadi yaa pemerintah evaluasi lagi gitu duit pajak didapat darimana dan dipakai buat apa. Intinya kebijakan fiskal ini fokusnya ngatur soal pajak.

Bagian mana yang bisa dikurangi tarifnya, bagian mana yang bisa ditambah. Dari sisi alokasi atau penggunaannya juga diatur lagi, harus dipakai kemana buat apa, dan seterusnya.

Selama perlambatan ekonomi, kebijakan fiskal seringkali bersifat ekspansif: Pemerintah meningkatkan pengeluaran atau mengurangi pajak untuk mendorong perusahaan meningkatkan produksi dan mempekerjakan lebih banyak pekerja.

Bisa dipahami gak nih? Jadi kan ketika orang berbisnis, salah satu pengeluaran mereka itu ke pajak, kalo pajaknya diturunin, ongkos bisnis mereka berkurang, jadi lebih mudah buat bisnis bisa berjalan.

Itu dari sisi pajak. Dari sisi pengeluaran negara, negara bisa jadi salah satu pembeli buat menjaga bisnis tetap hidup. Kan bisnis pada bangkrut gara-gara gak ada yang beli, nah pemerintah bisa menggunakan duit pajak buat belanja ke bisnis-bisnis yang ada.

Harapannya, banyak bisnis yang selamat dan tetap bisa beroperasi dan gak menambah jumlah orang yang kehilangan kerja dan pendapatan gara-gara tempat kerjanya bangkrut.

Misalnya, kita bisa lihat yang dilakukan Amerika pas krisis 2008. Untuk merangsang ekonomi, pada awal 2009, Kongres meloloskan Pemulihan dan Reinvestasi Amerika senilai $787 miliar.

Anggaran itu digunakan untuk pemotongan pajak dan manfaat senilai $288 miliar. Lebih dari $150 miliar digunakan untuk sektor seperti pendidikan, energi, dan transportasi.

Beberapa ekonom percaya pengeluaran semacam itu dapat berkontribusi untuk pemulihan ekonomi. Namun, yang lain berpendapat bahwa pengeluaran tersebut bisa menyebabkan kebutuhan akan tarif pajak yang lebih tinggi, yang akan menghalangi investasi bisnis.

Gitu ya dari sisi fiskal. Sekarang, pindah ke bagian moneter.

Selama perlambatan ekonomi, kebijakan moneter juga bersifat ekspansif: Tingkat suku bunga diturunkan untuk memberikan insentif supaya bisnis berekspansi dan mempekerjakan lebih banyak pekerja dan konsumen mendapat insentif untuk membelanjakan lebih banyak.

Sekali lagi kita bisa lihat alternatif kebijakan berdasarkan apa yang dilakukan Amerika pas menghadapi krisis 2008.

Selama tahun 2008, The Fed (Bank Sentral Amerika) secara bertahap menurunkan target rate dari 3,50 persen pada bulan Januari menjadi di bawah 0,25 persen pada bulan Desember.

Dengan tingkat suku bunga mendekati nol dan tingkat pengangguran masih tinggi, Fed mengadopsi kebijakan quantitative easing—pembelian aset keuangan seperti obligasi dan sekuritas yang didukung hipotek.

Kebijakan ini dilakukan untuk menurunkan suku bunga jangka panjang, sehingga bisa meningkatkan jumlah uang beredar dan pada akhirnya, meningkatkan daya beli.

Dari situ, harapannya, aktivitas konsumsi meningkat dan menstimulus ketahanan dan pertumbuhan bisnis.

 

—–

TERBITKAN ARTIKEL ANDA

Silakan kirim artikel pendapat anda untuk diterbitkan di Geolive Sudut Pandang ke: geolive.id@gmail.com | Subject: Sudut Pandang – [Judul artikel] | Lampirkan juga profil singkat dan foto terbaru anda.


Comments